Parliament Watch Indonesia: Agar Para Wakil Rakyat Tetap Terjaga

Parliament Watch Indonesia:
Agar Para Wakil Rakyat Tetap Terjaga

Prihatin atas lemahnya pemberdayaan lembaga legislatif, sekelompok pakar dan tokoh masyarakat sepakat untuk mendirikan lembaga pemantau parlemen, atau Parliament Watch Indonesia, pada bulan Juli lalu. Lembaga swadaya masyarakat ini berjanji akan secara aktif memantau kinerja DPR untuk meminimalkan ‘penyakit-penyakit’ seperti 5D (Datang, Duduk, Diam, Dengar dan Duit) yang berjangkit pada periode-periode lalu, sehingga lembaga legislatif tidak bisa bekerja efektif sebagai mitra bagi pemerintah. Berikut penuturan Prof. Dr. Kemal Roemawi, salah satu pemrakarsa dan sekaligus Presiden ParWI tentang lembaganya ini.

Kami merasa perlu untuk meningkatkan dan membantu reformasi pada parlemen Indonesia sehingga parlemen ini menjadi suatu parlemen yang profesional dan demokratis. Banyak hal yang harus kami telaah seperti sampai dimana aspirasi masyarakat yang memilih wakil-wakilnya betul-betul disuarakan. Apalagi masyarakat daerah yang masih banyak tidak mengetahui siapa wakil-wakil mereka. Bahkan tidak jarang wakil-wakil itu tidak mengetahui daerah tempat ia dipilih.

Kami melihat juga bahwa parlemen sebagai lembaga legislatif selama ini tidak terlihat fungsi yang seharusnya. Jangankan fungsi untuk rakyat, fungsi mereka sendiri juga belum optimal dijalankan. Dalam membuat anggaran belanja untuk parlemen, misalnya, anggaran yang dibuat selalu dikirimkan ke Sekretariat Negara, kemudian ke Bappenas, lalu diputuskan oleh Presiden . Berarti, anggaran legislatif ditentukan oleh eksekutif. Padahal seharusnya lembaga legislatif itu dapat membuat rencana sendiri, sehingga lembaga ini dapat bekerja dan berfungsi sesuai dengan anggarannya, bukan sebagai ‘tukang stempel’ saja.

Pemantau sekaligus Konsultan

Lembaga pemantauan dan pemberdayaan parlemen ini terdiri dari kelompok kerja pemantauan (Monitoring Working Group) dan juga kelompok pemberdayaan (Empowering Monitoring Group).

Kelompok monitoring yang pada umumnya kita ambil dari relawan-relawan pemantau, aktivis LSM, mahasiswa dan juga dari kelompok buruh dan nelayan. Tidak ada keharusan bagi mereka untuk bergabung memantau parlemen. Basis informasi kita adalah data dari laporan para pemantau terutama reaksi masyarakat yang suaranya belum teraspirasikan, bukan hanya produk-produk parlemen saja. Disinilah pokok kerja kami diperjelas lagi, yaitu berfungsi untuk menjembatani aspirasi masyarakat pada parlemen.

Untuk sementara waktu pertanggungjawaban dari segala hasil maupun laporan pemantauan dan juga pemberdayaan Parwi dilaporkan pada Komisi Pemilihan Umum. Bisa juga kami melaporkan semuanya ke media massa.

Meski tidak mempunyai wewenang khusus, Parwi akan tetap terus menelaah dan melakukan tekanan jika hasil laporan kami tidak ditanggapi. Tekanan yang kami lakukan itu mempunyai beberapa tahapan, mulai dari memberikan surat dan laporan yang kami himpun hingga melakukan demonstrasi tanpa kekerasan sebagai tindakan yang terakhir. Kami yakin, tindakan persuasif akan lebih efektif ketimbang represif.

Dalam fungsinya sebagai kelompok pemberdayaan, ParWI juga bertindak sebagai konsultan parlemen, sekaligus sebagai pemantau. Tokoh-tokoh dan pakar-pakar yang ada di Parwi siap memberikan jasa konsultasi, paling tidak dari yang kita telaah. Karena banyak komisi yang nantinya terbentuk, kita tidak menyiapkan hanya beberapa pakar saja, tetapi sejumlah pakar yang sesuai dengan yang dibutuhkan.

Meski lembaga konsultasi parlemen bukanlah hal yang baru —Golkar pun mempunyai konsultan, Parwi menggariskan diri sebagai lembaga yang mandiri dan non-partisan. Semua fraksi yang ada dapat menggunakan jasa Parwi ini.

Dengan langkah-langkah seperti ini kami mengharapkan parlemen yang baru dapat lebih profesional dan juga demokratis dibandingkan dengan parlemen sebelumnya. Memang, semua ini tidak mungkin tercapai dengan waktu yang relatif singkat.

Sumber :http://www.transparansi.or.id

About these ads
Published in: on 31 Maret 2009 at 18:08  Comments (6)  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: http://parliamentmonitory.wordpress.com/2009/03/31/parliament-watch-indonesia-agar-para-wakil-rakyat-tetap-terjaga/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

6 KomentarTinggalkan komentar

  1. Saya aepakat dengan lahirnya lembaga yg tentunya Independent, kamipun di daerah akan mendirikan ParWI sebagaimana fungsinya. untuk itu kami atas nama ParWI kab. Purwakarta ingin terbantu dalam hal-hal yg kiranya membutuhkan bantuan. terutama masalah teori dan tugas-tugas sesuai divisi.

    • This is a great idea, we know Good governance is an indeterminate term used in development literature to describe how public institutions conduct public affairs and manage public resources in order to guarantee the realization of human rights.[1] Governance describes “the process of decision-making and the process by which decisions are implemented (or not implemented)”.[1] The term governance can apply to corporate, international, national, local governance [1] or to the interactions between other sectors of society. And i’m agree with Denhas opinion.

  2. Saya mengusulkan, agar di pagar Gedung MPR/DPR, disamping papan nama, dibuat papan elektronik. Disitu agar ditampilkan hasil mesin absensi elektronik pada tiap hari sidang, dibagi berdasarkan partainya. Dengan demikian masyarakat bisa tahu mana saja partai yang serius berkontribusi, dan mana yang hanya cari fasilitas dan jabatan. Ini akan sangat berguna untuk Pemilu 2014.
    Juga baik bila dibuatkan layar besar disebelahnya, untuk CCTV yang memperlihatkan gambar ruang sidang, supaya bisa terlihat berapa banyak kehadiran.
    Kalau MPR/DPR mampu menyusun anggaran untuk gedung baru, tentunya biaya otomatisasi seperti ini sangat ringan.

  3. Halo, saya WNI yang sedang ada di luar negeri. saya hanya ingin mengingatkan kita semua untuk mewaspadai modus jalan – jalan para anggota yang terhormat ke luar negeri, terutama ke belahan dunia bagian utara yang saat ini mulai memasuki musim semi dan berangsur menghangat. Ada beberapa sumber saya (yang amat sangat dapat dipercaya) bahwa para anggota dewan yang terhormat sudah mulai mengagendakan acara di luar (mulai dari pertengahan Mei kalau tidak salah). Bahkan mereka tahu bahwa di beberapa negara, counterpart mereka (parlemen setempat) sedang dalam masa reses, tapi hal tersebut tampaknya tidak menyurutkan niat mereka dan mereka berencana untuk minta dipertemukan dengan badan apa saja yang tersedia (sekedar untuk justifikasi kedatangan mereka).

    Terus terang, saya sering malu kalau melihat fakta ini, mereka harus sadar bahwa banyak dari counterpart mereka di luar negeri sering mempertanyakan kedatangan mereka yang hampir setiap tahun, dengan agenda yang biasa saja dan biasanya tidak ada kelanjutan yang memuaskan. kita bisa liat sangat jarang anggota parlemen asing yang datang ke Indonesia melakukan hal yang sama, karena mereka tahu bahwa hal tersebut tidak efektif dan bisa dilakukan dengan cara yang lain.

    semoga mereka mau berubah.

  4. Terimaksih atas tulisannya sangat bermanfaat sekali. semoga dengan adanya lembaga ini dapat meningkatkan sikap sadar akan amanah dari setiap manusia, terutama pada pribadi kita masing-masing amiin.

  5. Reblogged this on cakilun and commented:
    Saking Pedulinya Masyarakat kita terhadap Orang-orang yang berkesampatan lebih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: